![]() |
Kredit: NASA, ESA, D. Golimowski (Universitas Johns Hopkins), D. Ardila (IPAC), J. Krist (JPL), M. Clampin (GSFC), H. Ford (JHU), dan G. Illingworth (UCO/Lick) dan Tim Sains ACS |
Gambar
terperinci Beta Pictoris, salah satu bintang terdekat dari tata surya, yang
dibidik oleh Teleskop Antariksa Hubble NASA, mengkonfirmasi eksistensi dua
cakram protoplanet gas dan debu yang mengelilingi bintang. Obervasi
Hubble juga menawarkan bukti baru tentang kehadiran setidaknya sebuah planet
seukuran Jupiter yang mengorbit Beta Pictoris.
Temuan
ini mengakhiri spekulasi selama satu dekade, terkait identitas sejati lekukan
aneh pada cakram puing-puing sisa pembentukan bintang belia itu, yang ternyata
adalah cakram protoplanet lain. Pemandangan terbaru yang disajikan instrumen Advanced Camera for Surveys (ACS)
Hubble, dianggap sebagai gambar terbaik Beta Pictoris dalam spektrum cahaya kasat mata, dengan jelas menunjukkan cakram sekunder dengan sudut
kemiringan sekitar 4 derajat dari cakram primer. Cakram sekunder terpisah
sekitar 24 miliar mil dari bintang induk, dan kemungkinan membentang lebih
luas, kata para astronom.
Hasil
studi telah dipublikasikan di Astronomical
Journal edisi Juni 2006, oleh tim astronom di bawah pimpinan David
Golimowski, dari Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland. Untuk
mengamati cakram sekunder yang lebih redup, tim menggunakan coronagraph ACS yang mampu memblokir
silau cahaya Beta Pictoris.
Penjelasan
terbaik sebagai kesimpulan observasi, adalah eksistensi sebuah planet tak
terlihat dengan rentang massa antara 1-20 kali massa Jupiter yang mengorbit
dari dalam cakram sekunder. Gravitasi kandidat planet menyapu material dari
cakram primer.
“Tak
sekadar lengkungan, observasi Hubble menunjukkan dua konsentrasi debu dalam dua
cakram yang terpisah,” kata Golimowski. “Temuan itu juga memperkuat dugaan dua
sistem planet (tata surya) bisa saja terbentuk di dua bidang orbit yang
berbeda. Kita tahu hal semacam ini bisa saja terjadi, karena orbit
planet-planet di tata surya kita sendiri cenderung condong beberapa derajat dari
orbit Bumi. Mungkin bintang yang membentuk lebih dari satu cakram debu, akan
dianggap wajar selama pembentukan sistem bintang.”
![]() |
Skema Cakram Protoplanet Beta Pictoris. Kredit: NASA, ESA, dan A. Feild (STScI) |
Simulasi
komputer yang dibuat oleh David Mouillet dan Jean-Charles Augereau dari Grenoble Observatory di Prancis,
menunjukkan bagaimana cakram debu sekunder terbentuk. Gaya gravitasi dari sebuah planet dengan orbit miring, menarik batuan/es berukuran kecil yang disebut
planetesimal dari cakram utama, dan membawanya ke orbit yang sejajar dengan
planet. Gangguan gravitasi yang dialami, menyebabkan planetesimal saling bertabrakan dan menghasilkan cakram debu sekunder yang terlihat pada
gambar terbaru Hubble.
Para
astronom belum bisa menjelaskan mengapa planet ini (jika memang benar ada)
memiliki lintasan orbit yang cenderung tak sejajar. Namun, simulasi komputer
yang dibuat oleh beberapa tim penelitian, menunjukkan kandidat planet berawal
dari bidang orbit yang sejajar, kemudian karena interaksi gravitasi, dengan
cepat menempati orbit yang terpisah dari cakram primer. Apa pun prosesnya,
kemiringan empat derajat orbit planet yang diduga mengganggu Beta Pictoris, tak
terlalu berbeda dengan kemiringan orbit beberapa derajat yang terlihat di tata surya
kita.
“Umur
butiran debu sebenarnya relatif pendek, mungkin hanya beberapa ratus ribu
tahun,” Golimowski menjelaskan. “Jadi temuan cakram primer dan sekunder di
sekitar bintang berusia 10 hingga 20 juta tahun, mengindikasikan mereka sedang
diisi ulang oleh tabrakan antar planetesimal.”
Beta
Pictoris terletak 63 tahun cahaya di rasi selatan Pictor. Meskipun
usianya jauh lebih muda daripada Matahari, ukuran Beta Pictoris dua kali lebih
besar dan sembilan kali lebih terang. Beta Pictoris adalah target penelitian
menarik sejak lebih dari 20 tahun yang lalu, setelah Infrared Astronomical Satellite NASA mendeteksi limpahan radiasi
inframerah darinya. Para astronom mengaitkannya dengan kehadiran debu circumstellar yang hangat.
![]() |
Gambar multi panjang gelombang Beta Pictoris. Kredit: NASA, ESA dan D. Golimowski (Universitas Johns Hopkins) |
Cakram
debu pertama kali dicitrakan oleh teleskop berbasis darat pada tahun 1984.
Koleksi gambar teleskop berbasis darat menunjukkan orientasi sudut pandang yang
hampir edge-on bagi para pengamat di
Bumi. Observasi Hubble pada tahun 1995 mengungkap lengkungan yang terlihat
pada cakram.
Pada
tahun 2000, Space Telescope Imaging
Spectrograph Hubble kembali mengkonfirmasi lengkungan. Studi terakhir oleh
tim astronom yang dipimpin Sara Heap dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard
NASA di Greenbelt Maryland, menggagas lengkungan yang terlihat pada cakram
adalah cakram sekunder dengan kemiringan orbit sekitar 4 derajat dari cakram
primer. Beberapa tim astronom mengaitkan lengkungan itu dengan kemiringan orbit
sebuah planet dari cakram primer.
Pelajari
lebih lanjut di artikel: Cakram Protoplanet Gas dan Debu Beta Pictoris
Ditulis
oleh: Staf hubblesite.org
Komentar
Posting Komentar