![]() |
Ilustrasi pesawat antariksa Cassini saat terbang di antara planet Saturnus dan cincin-cincin Saturnus pada tahun 2017. Kredit: NASA/JPL-Caltech |
Pesawat antariksa dipersenjatai berbagai
instrumen canggih untuk mengambil gambar dan mengumpulkan informasi di luar
angkasa. Tentu saja diperlukan energi untuk mengoperasikan instrumen dan
mengirim informasi ke Bumi.
Lantas, dari mana sumber daya energi tersebut
berasal?
Jawabannya sangat tergantung pada misi yang
diemban. Untuk memilih sistem sumber daya terbaik bagi sebuah pesawat antariksa,
para insinyur harus mempertimbangkan beberapa faktor, misalnya tujuan yang
akan ditempuh, jenis studi yang akan dilakukan dan durasi misi.
Tenaga Surya (Energi dari Matahari)
Pesawat antariksa yang ditempatkan di orbit
Bumi, atau satelit, cukup dekat dengan Matahari sehingga acap kali menggunakan
tenaga surya sebagai sumber daya. Satelit dilengkapi panel surya yang mampu
mengubah energi dari Matahari menjadi listrik untuk beroperasi.
![]() |
Kredit: NASA/JPL-Caltech |
Listrik dari panel surya mengisi baterai
sekaligus memberikan daya bagi pesawat antariksa, meskipun kadang-kadang harus
bergerak di lokasi yang tidak terpapar sinar Matahari langsung.
Tenaga surya juga telah dimanfaatkan untuk
menggerakkan jajaran pesawat antariksa NASA yang menjalankan misi di planet
Mars. Di antaranya, Mars Exploration Rovers, Spirit dan Opportunity, Mars’ Phoenix
Lander dan InSight Lander, yang menggunakan panel surya sebagai sumber daya.
Sementara pesawat antariksa yang mengemban
misi ilmiah jauh dari Matahari, memiliki panel surya berukuran sangat besar. Misalnya,
pesawat antariksa Juno NASA yang mengorbit planet Jupiter, dipersenjatai tiga
panel surya 9 meter.
![]() |
Pesawat antariksa Juno yang ditenagai oleh tiga panel surya berukuran besar, mulai mengorbit Jupiter pada tahun 2016. Kredit: NASA/JPL-Caltech |
Sayangnya, tenaga surya tak bisa digunakan
untuk semua pesawat antariksa. Jika sebuah pesawat antariksa terbang sangat
jauh dari Matahari, maka tenaga surya kurang efisien. Kendala lain yang harus
dihadapi wahana penjelajah tenaga surya adalah faktor cuaca dan musim di planet
tujuan misi dan radiasi ganas. Selain itu, mustahil untuk menjelajah di
lingkungan gelap dan berdebu, seperti gua di Bulan.
![]() |
Mars planet merah yang berdebu dan berangin. Ketika tertutup debu, panel surya tak akan bisa menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh pesawat antariksa. Kredit: NASA/JPL-Caltech/Cornell |
Ketika tenaga surya tak berfungsi, pesawat antariksa
harus mendapatkan sumber daya alternatif. Jadi para ilmuwan mengembangkan teknologi
sumber daya baterai yang bisa menyimpan energi untuk digunakan oleh pesawat
antariksa saat dibutuhkan.
Energi dari Baterai
Terkadang, durasi misi direncanakan berlangsung
dalam kurun waktu yang relatif singkat. Contohnya prob) Huygens
yang mendarat di Titan, bulan terbesar Saturnus, hanya beroperasi selama selama
beberapa jam. Jadi sumber daya dari baterai dirasa cukup menyediakan energi bagi
probe untuk menjalankan misinya.
Baterai untuk pesawat antariksa didesain
setangguh mungkin, karena akan beroperasi di lingkungan ekstrem, baik di ruang
angkasa maupun di permukaan dunia-dunia lain. Seiring waktu, para ilmuwan NASA
telah menemukan metode untuk meningkatkan kualitas baterai, dan kini mampu menyimpan
lebih banyak energi dalam ukuran yang lebih kecil dan tahan lama.
Energi dari Atom
Atom adalah penyusun materi yang ukurannya sangat
kecil. Hampir segala sesuatu yang kita ketahui di alam semesta terdiri dari
atom. Untuk membentuk suatu ikatan, atom harus menyimpan banyak energi.
Tetapi atom yang disebut radioisotop cenderung tidak stabil dan mudah
tercerai-berai. Saat mulai tidak stabil, radioisotop melepaskan energi panas.
![]() |
Radioisotop adalah atom yang cenderung tidak stabil, namun bisa menghasilkan energi panas. Kredit: NASA/JPL-Caltech |
Sumber daya radioisotop memanfaatkan perbedaan
suhu antara panas dari atom yang tidak stabil dengan suhu dingin ruang untuk menghasilkan
listrik. NASA juga telah menggunakan radioisotop sebagai sumber daya misi pesawat
antariksa ke Saturnus, Pluto, bahkan hingga ke ruang antarbintang. Rover Curiosity
di Mars juga memanfaatkan sumber daya jenis ini.
![]() |
Potret selfie Curiosity di Mars. Curiosity memperoleh energi dari baterai lithium-ion yang dapat diisi ulang dan sistem sumber daya radioisotop. Kredit: NASA/JPL-Caltech/MSSS |
Radioisotop menghasilkan daya yang relatif
tahan lama, bahkan di lingkungan paling ekstrem sekalipun. Faktanya, dua pesawat antariksa Voyager NASA yang memecahkan rekor penerbangan terjauh dan masih
mampu mengirim kembali informasi ke Bumi setelah 40 tahun di ruang angkasa, menggunakan
radioisotop sebagai sumber daya.
![]() |
Ilustrasi pesawat antariksa Voyager NASA. Kredit: NASA/JPL-Caltech |
Ditulis oleh: Staf spaceplace.nasa.gov
Sumber: What Powers a Spacecraft?
Komentar
Posting Komentar